Selasa, 03 Februari 2015

Goresan kecil tak bermakna, usahlah dibaca.

Wajah cantik nan indah yang terlihat di saat pertama kubuka mataku..
dipenuhi bulir airmata kebahagiaan. ya, wajahmu,
dengan kecup kasih sayang tanda cinta kau rengkuh tubuh mungilku di tengah kerasnya jerit tangisku.
hingga kini 22 tahun lewat sejak saat itu, masih engkau satu-satunya wanita yang kucinta. bait pertama surat ini kutulis untukmu saja. karena kurasa belum ada yang mampu kuberikan hingga detik ini. sungguh, perubahan yang kurasa darimu sejak kepergiannya masih melekat nyata di mataku, menggoreskan luka di hatiku melihat sedihmu itu..
tersenyumlah engkau, hai wanita tercantik di dunia ini. aku masih ada disini berjuang penuh membahagiakanmu. mencoba menggoreskan senyum di wajah letih namun cantikmu itu...
Suara merdu mengalun di telingaku saat pertama ku hadir di dunia ini. adzan nan indah suara pertama yang ku dengar. ya, suaramu...
20 tahun kita saling mengenal, saling menjaga.. ah, mungkin tidak. dirimulah yang menjagaku. bagaimana bisa kukatakan aku menjagamu? saat sakitmu pun aku tak selalu hadir di sampingmu.
tapi ketahuilah olehmu disana, di setiap langkah dan nafasku, hingga detik ini, masih selalu kuselip namamu di bait doaku.
sesal kurasa atas pengabaian telah terlambat dan kini hanya itu yang bisa kuberikan sebagai tanda cinta ku padamu. berbahagialah engkau disana, hai lelaki cinta pertamaku.. semoga kelak kita dipersatukan kembali di tempatmu sekarang.
ah, jika memang ada tangga panjang itu, ingin rasanya saat ini juga aku bersamamu.. kusampaikan bait ini kepadaNya, agar ia menyampaikan padamu rinduku yang tak bertepi ini..
Bait ini untuk kalian, lelaki dan wanita cinta pertamaku. apalah artinya goresan kecil di surat ini.jika melihat apa yang telah kalian berikan untukku. tak ada apa-apanya...tapi tuhan tau aku mencintai kalian dengan sangat, walaupun tak pandai aku menunjukkannya..


Kamu.. hai, kamu. mungkin kamu bertanya mungkinkah bait ini kupersembahkan untukmu? hmm.. kau kiralah sendiri
perkenalan singkat di masa biru, pelengkap kisah remajaku. menghadirkan kisah panjang di masa usia belasanku. rasa malu yang hinggap saat kita bertemu, mencuri lirikan di tengah ocehan panjang sang pahlawan itu di depan kelas. berpura-pura meminjam kaset hanya agar bisa saling menyapa. sampai peristiwa di depan kelas itu. yang hingga kini masih kuingat. kamu bilang "di depan guru BP atau di depan kelas?"
tapi jangan kau berburuk sangka. ku ingat itu sebagai kenangan masa biruku. karena kau taulah, aku paling mahir menyimpan kenangan seperti itu.terima kasih telah menghadirkan warna di saat itu.  Semua itu tersimpan rapat di kotak masa biruku. sekali lagi terima kasih untuk tigapuluh enam bulan itu.

Lalu kamu
yang juga pernah ada. bait ini kuberikan buatmu. sadarkah?
kamu yang pernah mengajariku banyak hal, agar menjadikan dewasaku. tapi taukah kamu? pelajaran darimu yang paling mengena ya ketika itu.. taukah kamu? ya, ketika kamu pergi bersama dia dan mencaci ku setelah itu..
ah, aku sudah memaafkanmu kawan,  tapi izinkan aku menuliskan sedikit di surat ini untuk mengucapkan terima kasih padamu yang tak pernah sempat kuutarakan karena sejak saat itu tak pernah lagi kita bertemu. karena luka waktu itu, aku belajar banyaaakkk sekali hal. ya, terutama belajar untuk ikhlas. ikhlas mencintai dengan tulus dan tersenyum bahagia walaupun disakiti (jangan kau anggap ini bohong, karna benar itu yang kurasa). terima kasih atas lawatan singkat delapan belas bulan yang pernah kita jalani bersama. tiga tahun telah berlalu dan kini aku menemukan cinta tulusku sendiri. terima kasih karena telah mengajari aku bagaimana caranya membuka hati setelah tersakiti, dan menemukan bahagiaku sendiri.
harapanku semoga kau juga menemukan bahagiamu pula, dan kita akan dipertemukan kembali saat kedua dari kita menemukan hari bahagianya masing-masing.

Bait kelima, terakhir..
Ah kamu  pasti tau ini buatmu, dan memang begitu. Hei kamu lelaki dingin namun berhasil kuluhkan hatinya, masih ingatkah kamu saat itu? Berminggu minggu kau temani aku di situ. Dengan hujan yang menderu. Sampai di hari terakhir masa itu, kutunggu kau hingga jam duabelas malam karna kau bilang ada sesuatu yang ingin kau utarakan. Ingatkah? Aku selalu mengingatnya dan kujamin, takkan pernah kulupa. Hei kamu yang hadir saat tak lagi kupercaya yang namanya kesetiaan. yang hadir disaat terburukku kehilangan ayahku pula. yang hadir membawa canda dan kasih sayang. padahal kamu tau kan, kita selalu bertengkar sejak pertama disatukan sebagai partner. tapi kenapa kita saling mencinta? jangan tanya aku, akupun tak tau.. ah, macam kisah sinetron saja. bicara soal sinetron, aku berharap kisah kita sama seperti itu. ya kau taulah, bertengkar-salingmerindu-pacaran. tapi tak sampai disitu saja. aku ingiin dua tambahan lagi. menikah-mati. ya, aku ingin saat matiku adalah bersamamu. apa? lebay? kurasa tidak. tidak karena memang itu yang kurasakan.
Terima kasih untuk dua belas bulan ini.dan terima kasih juga atas semua pengalaman dan pelajaran yang kamu berikan. apa kamu bilang? aku belajar terus? kapan jadi gurunya?
kujawab, ya, nanti aku akan jadi guru. guru sekaligus ibu bagi anak-anakmu kelak.
terima kasih sayang dan bertahanlah kamu disini, disamping perempuan egois nan manja ini.


Bekasi,Empat Februari Duaribulimabelas.

dalam #30harimenulissuratcinta - Hari ke-6

0 komentar:

Posting Komentar